Bumi Pasundan
Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.
Di antara berita-berita politik yang tersebar di media, jujur sudah cukup membuatku ingin mencabut kewarganegaraanku sebagai orang Indonesia. Rasanya yang diurus cuma Pulau Jawa saja, sedangkan pulau-pulau lain seperti dianaktirikan, apalagi Papua, bahkan seperti anak pungut hitungannya.
Tetapi, ada satu kota yang membuatku ingin tetap tinggal di bumi Indonesia yang penuh akan fauna dan floranya ini, yaitu Kota Bandung. Kata indah sendiri rasanya tidak cukup untuk menggambarkan kota ini. Menurutku, kota ini terlalu indah.
Kenangan paling indah di Kota Bandung adalah ketika aku bertemu seseorang yang menemani hari-hariku selama di Bandung. Itu menjadi salah satu kenangan paling indah bagiku. Dia mengajakku jalan-jalan, mulai dari Alun-Alun Bandung sampai ke mal. Yang paling lucu itu, kemarin aku malah ngajak dia ke ITB, ujung-ujungnya malah ke mal. Habis itu kami karaoke di arcade. Yah, sebenarnya kami juga sempat mau masuk ke rumah hantu, cuma kami berdua sama-sama takut, jadi ujung-ujungnya berhenti di depan saja. Gokil memang.
Tapi aku agak sedih karena sekarang kami tidak bisa bertemu lagi. Sekarang aku sudah kembali ke Kalimantan, sedangkan dia tetap di Bandung.
Oh iya, baru ingat. Sebenarnya aku juga mau ngajakin dia bikin tren yang lagi viral, cuma kami lupa kalau kami ini WNI. WNI moment. Ah, ya mau gimana lagi. Kami sebenarnya sudah cari tempat yang sepi buat bikin tren itu, tapi nggak ada. Yaudah, karena nggak jadi bikin tren, akhirnya kami lanjut jalan-jalan saja. Jujur, seru banget. Hehehehe.
Pokoknya kalau nanti aku ke Bandung lagi, mau aku ajak jalan-jalan lagi. Jujur, jalan bareng dia itu seru banget.
Aku yakin dalam waktu dekat kita pasti akan bertemu lagi, bercengkerama, dan berjalan-jalan menikmati indahnya Indonesia sebelum akhirnya kabur ke negara lain.
Oh iya, terakhir. Bumi Pasundan lahir saat Tuhan sedang tersenyum, dan di bumi Pasundan ini dia juga membuatku tersenyum.
Sampai jumpa lagi. Aku yakin firasatku tidak salah.
Maaf kalau selama kita bertemu aku ada salah, ya.