Aku Harap di Siklus Selanjutnya Aku Tidak Mengulangi Kesalahan yang Sama
Cerita tentang hubungan, kehidupan sosial, rasa lelah menjadi diri sendiri, dan harapan agar semuanya tidak terulang lagi.
My life was nothing but a series of shame
Osamu Dazai - NO LONGER HUMAN
Kalian pernah berpikir gak sih cinta itu apa? Kalau menurut pandanganku sebagai orang Aroace, cinta itu adalah kondisi di mana kamu ikhlas menerima dan juga ikhlas melepaskan seseorang. Kalau masih belum ngerti, gampangnya kayak gini: kalau memang cinta sama seseorang, harus bisa menerima dirinya dan juga ikhlas kalau suatu hari nanti ditinggalkan oleh orang tersebut.
Kadang aku heran sama orang yang habis pacaran lalu putus, terus ingin kembali kayak dulu lagi, padahal orang itu sudah gak mau. Nah, ini juga pernah aku alami. Padahal sudah tahu aku ini ibaratnya Aroace, tapi masih saja ada yang kekeh menganggap aku bakal suka sama dia, padahal menurutku itu mustahil.
Selama aku menjalin hubungan, aku gak pernah merasakan hal romantis atau semacamnya. Rasanya malah kayak teman biasa saja. Dan titik puncaknya, orang ini jadi terlalu sering nge-stalk aku. Lihat story WhatsApp, foto profil TikTok, sampai Discord juga. Itu bikin aku risih. Jadi mau gak mau aku kerja sama sama teman aku yang cosplayer cewek buat pura-pura pacaran. Caranya cuma post foto dia di story aku, dan ternyata berhasil. Sekarang aku sudah gak di-chat lagi sama orang itu.
Jujur, kalau boleh jujur, aku sebenarnya agak risih kalau diperlakukan kayak gitu. Kalau bisa jadi teman saja gak usah lebih. Aku lebih nyaman menjalin hubungan persahabatan daripada hubungan romantis.
Selama di sekolah juga aku merasa gak pernah benar-benar diterima di lingkungan. Kadang aku juga dibully. Kayak tadi misalnya, aku dikatain macam-macam di server Discord kelas sendiri. Beberapa orang di kelasku juga menurutku brengsek. Sampai-sampai aku merasa kalau selama ini aku bergaul bukan sebagai diriku sendiri, melainkan cuma topeng supaya bisa bersosial di lingkungan yang sebenarnya gak pernah menginginkan kehadiranku sebagai manusia.
Kadang kalau lihat salah satu karya Osamu Dazai, aku merasa relate sama karakternya. Ibaratnya kayak gambaran sempurna dari diriku sendiri. Selama sekolah ini juga aku merasa dikucilkan. Suara dan pendapatku juga gak pernah terlalu dianggap. Aku terlalu sering mengikuti kata orang lain sampai lupa sama diriku sendiri.
Kadang aku juga mikir soal hubungan tadi. Misalnya ada orang yang minta balikan lagi, itu sebenarnya keinginan dia, bukan keinginanku. Jadi sekarang aku lebih memilih mengikuti apa yang memang aku inginkan.
Oh iya, soal aku dibully, bahkan aku pernah dikatain hama. Rasanya makin hari makin berat buat menjalani hari. Bahkan sekarang aku takut sama tempat ramai dan orang-orang yang memakai baju warna ungu. Bersosial juga terasa berat buatku.
Aku sebenarnya ingin curhat ke keluargaku, tapi kadang solusi yang dikasih juga gak terlalu membantu, jadi rasanya bingung harus gimana. Aku cuma pengen hidup tenang, tapi anehnya setiap kali hidupku terasa tenang malah rasanya ada yang salah. Kayak ada sesuatu yang gak beres.
Sebenarnya aku masih ingin cerita panjang, tapi rasanya gak kuat kalau harus mengingat semuanya terus. Itu malah bikin mentalku makin parah. Bahkan tadi bangun dari ranjang aja susah banget karena maunya tidur terus. Soalnya mimpi terasa lebih indah dibanding dunia nyata sekarang ini. Dan itupun aku berjalan tertatih-tatih menuju laptop ini.
Jujur, ada orang bilang ke aku kalau dia sudah gak peduli lagi sama semuanya, yang penting sekarang bisa bersenang-senang. Ada juga kalimat yang bilang lebih baik berpisah dengan senang daripada sedih. Tapi menurutku hal seperti itu gak mungkin terjadi sama aku. Ibaratnya setiap kelulusan sekolah selalu meninggalkan luka yang dalam. Gak pernah rasanya aku benar-benar senang. Malah yang paling aku sukai itu ketika aku sudah tidak sekolah lagi di tempat itu.
Dan siklus itu terus berulang sampai sekarang. Bahkan kayaknya nanti waktu kelulusan aku malas ikut. Aku malas lihat anak-anak kelasku yang brengsek. Memang ada yang baik dan itu jadi temanku, tapi aku cuma mau ketemu sama orang-orang yang baik saja, bukan yang suka ngebully aku dan bikin aku gak pernah jadi diriku sendiri.
Sebenarnya aku juga membenci orang itu dan mungkin masih dendam. Tapi aku mencoba memaafkannya karena ini juga pertama kalinya dia hidup, jadi mungkin saja dia gak sadar kalau apa yang dia lakukan itu salah. Jadi sebisa mungkin orang yang aku benci tetap aku maafkan, walaupun sebenarnya susah banget. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa orang yang belum benar-benar bisa aku maafkan karena mereka terlalu brengsek dan aku dikatain macam-macam sama mereka.
Yaudah lah, mungkin memang nasib. Intinya di siklus selanjutnya aku gak mau memilih sekolah ini lagi. Aku nyesal.
Dan maaf ya semuanya kalau aku belum bisa menjadi seperti yang kalian inginkan. Aku harap kalian bisa mengerti maksudku, atau setidaknya mengenal diriku walaupun cuma 1% saja itu sudah cukup buatku.
Mungkin post kali ini sampai di sini dulu karena aku juga pengen istirahat biar gak terlalu stres.
See you my friend.
Sampai jumpa lagi di siklus selanjutnya.
Bye bye bye.