Waktu

Apr. 12, 2026 / #Literature #Story #Imagination
ABSTRACT

Lima Minggu

365 hari telah terlalui, dan selama itu aku menunggu kesembuhan dirinya dari penyakit yang mematikan. Aku ingin sekali orang yang aku sayangi bisa sembuh, dan aku harap 3 bulan lagi dia benar-benar pulih dari penyakitnya.

Seperti biasa, aku pergi ke rumah sakit untuk menjenguknya. Sesampainya di ruangannya, aku terkejut dengan apa yang aku lihat. Yang biasanya aku melihat dirinya terbaring lemas di ranjang rumah sakit, kini dia bisa beranjak dari ranjang dengan sendirinya. Aku melihat dia sedang melakukan senam kecil-kecilan, lalu dia berkata, "Ah, hari yang indah. Sepertinya Tuhan mendengar doaku." Aku menangis terharu melihat orang yang aku sayangi akhirnya sembuh. Dengan cepat aku memeluknya dengan erat, sontak dia terkejut dengan kehadiranku. Aku sangat gembira melihat dirinya bersemangat dengan senyumnya yang membinar-binar, yang membuat mataku bersinar kembali.

Akhirnya dokter mengizinkan dia untuk rawat jalan di rumah. Kami pun pulang dengan gembira, dan sesampainya di rumah kami disambut oleh keluarga yang sudah menunggu. Ayah dan ibuku senang bukan main setelah 1 tahun dia di rumah sakit, melihat dirinya sehat walafiat. Malam itu kami menyantap hidangan Sop Konro dengan lahap. Sop Konro adalah salah satu makanan favorit aku dan orang yang aku sayangi.


Minggu Pertama

Aku mengajaknya jalan-jalan ke taman sambil mengobrol santai.


Minggu Kedua

Aku membelikan baju paling bagus yang pernah aku belikan untuk seseorang yang paling aku cintai. Aku harap dia memakainya setiap hari supaya aku lebih semangat mencari nafkah demi keluarga.


Minggu Ketiga

Kami pergi ke pantai bersama keluarga untuk menikmati matahari terbenam. Kami berbincang banyak hal seperti teknologi, matematika, dan filsafat. Ya, keluargaku memang suka hal-hal yang berbau logika. Selepas membahas tiga hal itu, dengan spontan dia menambahkan, "Kalau aku mati, tolong taruh bunga Myosotis Sylvatica di dekat makamku, kalau perlu ditanam di sana."

Kami terkejut mendengar dia berkata seperti itu. "Hey, kamu jangan ngomong seperti itu. Aku sudah menunggu dirimu selama 365 hari, jangan ngomong aneh-aneh. Aku khawatir," kataku dengan lantang karena aku takut dia pergi dari dunia ini, dan aku belum siap.


Minggu Keempat

Semenjak kejadian itu, selera makannya turun drastis. Mukanya sangat pucat dan dia terlihat lemas. Sekarang dia terbaring di ranjang kamarnya, dan apapun kegiatannya selalu dibantu oleh keluargaku. Aku khawatir dia kenapa-kenapa, jadi aku selalu di sampingnya dan selalu bilang, "Kamu jangan pergi ya, please. Aku nggak sanggup tanpa kamu. Please, hiduplah lebih panjang lagi untukku."

Dia pun menjawab, "Tentu saja, tapi aku nggak bisa janji ya, karena aku juga nggak tau pasti sisa umurku berapa. Bisa saja besok aku sudah tiada, mungkin juga satu minggu lagi, atau kalau aku beruntung, sampai tua. Tapi satu hal yang ingin sekali aku sampaikan: kematian itu pasti, yang tidak pasti adalah kapan dan di mana kita mati, kita nggak akan tahu sampai itu kejadian. Tapi aku yakin bisa hidup lebih lama, hanya untuk orang yang telah membuat diriku bahagia. Tapi aku nggak janji ya."

Perkataannya membuat aku sedih dan bingung di satu waktu, tapi aku berharap dia lekas sembuh.


Minggu Kelima

Setiap hari aku menyuapkan makanan ke dirinya, berharap dia cepat sembuh. Namun takdir berkata lain. Orang yang aku cintai pergi di pangkuanku, dan kata-kata terakhir yang dia ucapkan sebelum meninggalkan dunia ini adalah:

"Kamu tahu nggak apa arti kehidupan ini? Menurut aku, hidup ini nggak ada arti yang pasti. Tapi satu hal yang aku percaya: kita hidup untuk memberikan arti bagi sesama, bukan malah menindas satu sama lain. Kita hidup harus rukun, tidak ada perang. Menurut aku, orang yang memulai perang adalah orang paling egois yang tidak pernah memikirkan orang di sekitarnya. Intinya, kita di dunia ini harus saling membantu, tidak ada istilah perbedaan. Kita ini ibarat satu spesies. Itu saja yang mungkin bisa aku sampaikan. Biarkan aku memejamkan mata sebentar, aku capek sekali setelah berbincang panjang lebar dengan kamu. Aku harap kamu mengerti ya."

Setelah itu, dia tidak pernah lagi membuka matanya.

Semenjak itu aku diselimuti rasa sedih paling dalam, namun semuanya perlahan sirna setelah aku mengingat perkataan terakhirnya. Seolah dengan mengingat kata-katanya, dia masih ada di sampingku. Oh iya, aku akhirnya paham kenapa dia ingin sekali makamnya dipenuhi bunga Myosotis Sylvatica. Arti bunga itu adalah "jangan lupakan aku." Jadi aku mengerti, dia ingin selalu diingat walaupun sudah tiada. Sekarang aku benar-benar mengerti.


Memento Mori.